
Arak Bali, Mengenal Lebih Dalam Minuman Khas Pulau Dewata Ini
Arak Bali Merupakan Minuman Beralkohol Yang Di Buat Secara Turun Temurun Serta Menggunakan Bahan Baku Tradisional. Minuman ini di buat dengan bahan baku yang berasal dari tuak atau nira pohon aren maupun lontar, tergantung sumber daya alam yang terdapat di daerah produsen. Tepatnya pada Kabupaten Buleleng, jenis pohon ini cukup tumbuh cukup subur. Sehingga dapat menghasilkan nira untuk di gunakan sebagai produksi arak dengan jumlah hasil produk yang baik. Sifat tumbuh tanaman atau pohon ini sebenarnya tidak memerlukan kondisi dan ketinggian tanah tertentu. Serta masyarakat belum membudidayakan tanaman ini, sehingga persebaran maupun perbanyakan pertumbuhannya terjadi secara alami. Proses jalannya produksi minuman ini, sangat bergantung kepada cuaca dan musim. Misalnya, proses produksi yang di lakukan saat musim hujan. Menghasilkan minuman yang memiliki kualitas yang kurang baik atau rendah. Sebaliknya, pada saat cuaca atau musim kemarau, proses produksi berjalan dengan sempurna. Sehingga menghasilkan minuman arak yang berkualitas dan yang terbaik.
Warisan Budaya Takbenda Republik Indonesia
Seperti pada saat musim dengan curah hujan yang tinggi, memengaruhi kandungan gula dan nutrisi pada nira. Sehingga hal ini dapat memengaruhi kualitas nira yang akan menjadi bahan baku proses produksi minuman arak. Kemudian pada saat proses fermentasi, cuaca dapat berpengaruh signifikan terhadap hasil fermentasi. Hal ini di sebabkan, aktivitas mikro-organisme yang mendukung proses fermentasi nira menjadi alkohol terganggu. Proses yang terganggu ini, tentu di sebabkan oleh cuaca dengan curah hujan yang cukup tinggi. Mengakibatkan suhu serta kelembapan menjadi tidak stabil, sehingga mempengaruhi proses ini. Dan juga, secara tidak langsung mempengaruhi hasil akhir dari minuman arak itu sendiri.
Minuman khas pulau Dewata ini telah di tetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Republik Indonesia. Yang mana di lakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Serta termuat dalam Surat Keputusan Menteri Kemendikbudristek Republik Indonesia Nomor 414/P/2022 Tentang Penetapan WBTb Republik Indonesia Tahun 2022.
Hadirnya Arak Bali Pada KTT G20
Minuman yang tadinya di kenal sebagai minuman khas tradisional Adat Bali, yang cukup sering di gunakan pada upacara adat maupun konsumsi secara pribadi. Minuman ini nyatanya semakin naik kelas dengan Hadirnya Arak Bali Pada KTT G20 yang di selenggarakan pada November 2022 lalu. Hal ini tentu memberikan pengenalan dan bukti yang kuat kepada dunia. Bahwa kekayaan budaya Indonesia sangat melimpah dan beragam, dan salah satunya yaitu minuman beralkohol ini.
Pada KTT G20 kemarin, Arak Bali yang terpilih untuk hadir pada acara konferensi tingkat tinggi tersebut berasal dari seorang pengrajin asal Denpasar, Ida Ayu Puspa Eny. Beliau merupakan satu satunya wanita pengrajin minuman khas beralkohol asal Denpasar. Ibu Ida Ayu Puspa Eny, berusia 65 tahun saat produk araknya di pilih sebagai souvenir pada G20. Serta memulia dalam peracikan, pengolahan serta produksi arak sejak tahun 2008. Dan kini, produk beliau yang menjadi souvenir pda G20 tersebut di kenal dengan Iwak Arumery.
Ibu Puspa menjelaskan bahwa minuman ini memiliki kandungan dengan bahan dasar arak jung atau arak rempah. Yang mana kandungan ini memiliki manfaat sebagai pengobatan untuk batuk, sariawan, flu hingga penghangat tubuh. Serta leluhur Bali sudah mengetahui kemurnian dan manfaat yang di berikan arak ini cukup baik bagi kesehatan, tutupnya. Tentu saja, pengrajin tersebut tidak menyangka produknya akan di gunakan dan tampil pada G20 sebagai souvenir. Pada rangkaian acara tersebut, Puspa menyiapkan sekitar 50 botol arak dengan lima varian rasa. Serta minuman ini tersajikan di dalam kemasan botol bervolume 750ml.
Adapun kelima varian rasa tersebut iala kopi, beri, rempah, dan murni yang mana kelima rasa tersebut merupakan varian unggulan produk Puspa. Serta Iwak Arumery ini telah berpita cukai sehingga peredaraanya di masyarakat sudah legal. Minuman khas beralkohol ini memiliki jumlah yang terbatas kala itu, karena souvenir hanya di siapkan untuk jajaran menteri yang hadir pada G20.